Ada keluarga yang terlihat lengkap dari luar, tetapi di dalamnya ada seseorang yang perlahan kehilangan alasan untuk melanjutkan hidupnya.
Kadang aku iri melihat keluarga orang lain.
Bukan karena mereka punya rumah besar, mobil bagus, atau kehidupan yang terlihat sempurna. Aku hanya iri melihat bagaimana mereka bisa duduk bersama, tertawa bersama, saling mendukung, dan membicarakan masa depan tanpa harus merasa takut kepada orang yang seharusnya menjadi tempat mereka berlindung.
Keluargaku sebenarnya utuh. Ada ayah, ada ibu, ada kakak, dan ada aku. Kalau dilihat dari luar, tidak ada yang aneh. Kami bukan keluarga yang kekurangan anggota. Kami juga bukan keluarga yang benar-benar berantakan secara kasatmata.
Tapi entah sejak kapan, rumah yang seharusnya menjadi tempat paling aman justru menjadi tempat yang paling ingin aku hindari.
Aku anak kedua dari dua bersaudara.
Kakakku tumbuh menjadi seseorang yang cukup berhasil. Dia punya karier, punya arah hidup, dan punya kemampuan untuk berdiri di atas kakinya sendiri. Bahkan, dalam banyak hal, kakakku selalu berusaha menarikku agar bisa ikut melangkah ke kehidupan yang lebih baik.
Dia ingin aku punya masa depan. Dia ingin aku punya pekerjaan yang layak. Dia ingin aku tidak terus-terusan berada di tempat yang sama.
Sayangnya, tidak semua orang di rumah menginginkan hal yang sama.
Ayahku seorang ustaz. Seseorang yang dikenal orang lain karena nasihatnya, karena kata-katanya tentang agama, tentang keluarga, tentang bagaimana manusia seharusnya menjaga kehormatan dan kepercayaan.
Tapi ada satu kenyataan yang tidak pernah benar-benar bisa aku pahami.
Ayah menjalin hubungan dengan perempuan lain, lalu menikahinya.
Aku tidak tahu harus menyebutnya apa. Yang jelas, ada sesuatu yang berubah sejak saat itu. Ada luka yang tidak pernah dibicarakan, ada rahasia yang seolah harus dijaga bersama, dan ada banyak hal yang tidak boleh dipertanyakan.
Aku ingin bercerita kepada Ibu. Aku ingin membuka semuanya. Aku ingin Ibu tahu apa yang sebenarnya terjadi.
Tapi ternyata hidup tidak memberiku kesempatan semudah itu.
Ibu lebih dulu jatuh sakit. Tubuhnya melemah, bahkan sampai lumpuh. Di saat aku ingin mengungkapkan sesuatu yang mungkin sudah lama menjadi beban di dada, aku justru harus menelan semuanya sendiri.
Aku takut.
Takut Ibu semakin terpukul. Takut kondisinya memburuk. Takut kehilangan satu-satunya orang yang mungkin masih bisa membuatku merasa bahwa rumah adalah rumah.
Jadi aku diam.
Dan ternyata, diam juga bisa menyakiti seseorang sampai sedalam itu.
Aku tidak pernah tahu bagaimana rasanya menjadi anak yang benar-benar didengarkan. Aku tidak tahu bagaimana rasanya punya ruang untuk menentukan masa depan sendiri. Bahkan ketika kakakku berusaha membukakan jalan karier untukku, selalu ada batas yang terasa tidak masuk akal.
Aku ingin bekerja, tetapi tidak diperbolehkan.
Aku ingin berkembang, tetapi seperti ada tangan yang terus menarikku kembali.
Aku ingin punya kehidupan sendiri, tetapi setiap kali mencoba melangkah, selalu ada alasan untuk menghentikanku.
Aku tidak tahu apakah ini bentuk perlindungan, pengendalian, atau sesuatu yang bahkan tidak ingin disebutkan oleh siapa pun.
Yang aku tahu, semakin lama aku merasa seperti tidak punya hak atas hidupku sendiri.
Mungkin karena terlalu lama memendam semuanya, aku mulai mencari tempat untuk melarikan diri.
Aku mencari seseorang yang mau mendengarkan. Seseorang yang bisa membuatku merasa dianggap ada. Seseorang yang bisa memberiku sedikit kehangatan yang tidak kutemukan di rumah.
Aku mulai menjalin hubungan secara diam-diam.
Awalnya mungkin hanya ingin merasa disayangi. Ingin punya seseorang yang bisa menjadi tempat pulang, meskipun hanya sementara.
Tapi ketika seseorang terlalu lama hidup dalam kekosongan, terkadang dia tidak tahu lagi mana tempat pulang dan mana jalan yang justru membawanya semakin jauh.
Aku salah melangkah.
Kini aku memiliki seorang anak, tetapi anak itu tumbuh tanpa kehadiran seorang ayah di sisinya. Dan aku harus menjalani kehidupan yang tidak pernah benar-benar kupersiapkan.
Di satu sisi, aku harus menjadi orang tua bagi anakku. Di sisi lain, aku juga harus ikut merawat Ibu yang sedang sakit. Sementara untuk diriku sendiri, aku bahkan tidak tahu harus mulai dari mana.
Aku ingin bekerja. Aku ingin punya penghasilan sendiri. Aku ingin membangun masa depan untuk anakku. Aku ingin membuktikan bahwa hidupku belum selesai.
Tapi bagaimana caranya membangun masa depan jika setiap pintu yang ingin kubuka terasa dikunci dari dalam rumah sendiri?
Kadang aku melihat kakakku dan bertanya dalam hati, kenapa hidup kami bisa begitu berbeda?
Kami tumbuh dari rumah yang sama. Kami punya ayah dan ibu yang sama. Tapi mengapa satu dari kami bisa berjalan menuju masa depan, sementara yang lain seperti tertinggal di tempat yang bahkan tidak pernah dipilihnya?
Aku tidak menyalahkan kakakku. Justru aku tahu dia sudah berusaha. Dia mungkin satu-satunya orang yang masih mencoba menggendongku keluar dari keadaan ini.
Tapi aku juga tidak ingin selamanya menjadi seseorang yang harus digendong.
Aku ingin berdiri sendiri. Aku ingin punya pekerjaan. Aku ingin punya harga diri. Aku ingin anakku kelak melihat bahwa ibunya pernah berjuang, bukan hanya bertahan.
Ada hari-hari ketika aku merasa lelah sekali.
Bukan lelah karena pekerjaan. Bukan juga lelah karena banyaknya aktivitas.
Aku lelah karena tidak tahu harus membawa hidup ini ke mana.
Bangun pagi, menjalani hari, mengurus anak, mengurus Ibu, menghadapi keadaan, lalu tidur dengan pikiran yang sama. Besok harus bagaimana? Bulan depan bagaimana? Masa depanku bagaimana?
Hari berganti, umur bertambah, tetapi hidupku seperti tidak bergerak ke mana-mana.
Orang mungkin melihatku masih hidup. Masih bisa tersenyum, masih bisa berbicara, masih bisa melakukan pekerjaan rumah, masih bisa tertawa sesekali.
Tapi mereka tidak tahu, ada bagian dari diriku yang sudah lama berhenti berharap.
Aku bukan tidak punya mimpi. Aku hanya terlalu sering dibuat merasa bahwa mimpiku tidak penting.
Aku bukan tidak mau bekerja. Aku hanya terlalu sering tidak diberi kesempatan untuk menentukan jalan hidupku sendiri.
Aku bukan tidak ingin menjadi orang yang lebih baik. Aku hanya tidak tahu bagaimana caranya keluar dari keadaan yang terus-menerus menahanku.
Dan yang paling menyakitkan, semua ini terjadi di dalam keluarga yang oleh orang lain mungkin dianggap baik-baik saja.
Di luar, keluarga kami terlihat utuh.
Ada seorang ayah yang dihormati orang. Ada seorang ibu yang masih menjadi bagian dari keluarga. Ada anak pertama yang berhasil. Ada aku, anak kedua yang seharusnya juga punya kesempatan untuk tumbuh.
Tapi siapa yang tahu bahwa di balik keutuhan itu, ada begitu banyak hal yang hancur?
Aku tidak sedang meminta orang mengasihaniku. Aku juga tidak ingin menjadikan masa lalu sebagai alasan untuk semua kesalahanku.
Aku tahu aku pernah salah. Aku tahu ada keputusan yang harus menjadi tanggung jawabku. Aku juga tahu anakku tidak seharusnya menanggung luka yang bukan miliknya.
Tapi bolehkah, sekali saja, ada yang bertanya bagaimana keadaanku?
Bukan bertanya apakah aku sudah makan. Bukan bertanya apakah rumah sudah beres. Bukan bertanya apakah Ibu sudah diurus.
Tapi bertanya, “Kamu sendiri masih punya mimpi? Kamu masih ingin menjadi apa? Apa yang bisa kami lakukan supaya kamu punya kesempatan untuk hidup?”
Sebab aku juga anak seseorang.
Aku juga pernah punya cita-cita. Aku juga pernah membayangkan masa depan. Aku juga pernah ingin membanggakan keluarga.
Aku tidak pernah meminta dilahirkan dalam keadaan seperti ini. Aku hanya ingin diberi kesempatan untuk memperbaiki hidupku.
Mungkin aku tidak bisa mengubah apa yang sudah dilakukan Ayah. Mungkin aku tidak bisa mengembalikan kesehatan Ibu seperti dulu. Mungkin aku juga tidak bisa mengulang keputusan-keputusan yang pernah membuat hidupku berbelok.
Tapi apakah itu berarti masa depanku juga harus ikut dikubur?
Aku masih ingin hidup. Bukan sekadar bernapas dan melewati hari.
Aku ingin hidup yang benar-benar hidup.
Aku ingin punya pilihan. Aku ingin bekerja. Aku ingin berkembang. Aku ingin menjadi ibu yang bisa memberikan masa depan lebih baik bagi anakku. Dan suatu hari nanti, aku ingin melihat diriku sendiri tanpa merasa malu atau kecewa karena terlalu lama kehilangan arah.
Kalau suatu hari nanti aku berhasil keluar dari semua ini, mungkin orang akan berkata bahwa aku akhirnya kuat.
Padahal mereka tidak tahu, aku hanya sudah terlalu lama berjuang sendirian.
Dan kalau hari ini aku masih terlihat diam, bukan berarti aku baik-baik saja.
Mungkin aku hanya sedang mengumpulkan sedikit keberanian untuk percaya bahwa hidupku belum selesai.
Sebab keluarga bisa saja terlihat utuh di mata dunia, tetapi itu tidak menjamin setiap orang di dalamnya merasa dicintai.
Dan seseorang bisa saja masih hidup, tetapi sudah terlalu lama tidak diberi kesempatan untuk benar-benar menjalani hidupnya.
— Mari Duduk Bersama Cakra









